Perang, Pembuangan, dan Diplomasi: Kisah Sultan Ahmadsyah dari Asahan yang Jarang Diangkat

578

Jakarta,Ngabarin.com — Kalau sejarah Indonesia difilmkan ala sinema epik, nama Sultan Ahmadsyah dari Asahan layak jadi karakter utama. Ia bukan cuma seorang raja biasa—tapi pemimpin yang berani bilang “tidak” saat Belanda mencoba masuk ke tanahnya. Cerita perjuangannya bukan kisah yang banyak dibahas di buku sejarah sekolah, tapi justru di situlah letak epic-nya.

1862: Undangan di Kapal, Jawaban Tegas dari Darat

Saat Belanda mulai memperluas kekuasaan di pantai timur Sumatra, mereka menargetkan negeri-negeri yang dianggap bagian dari taklukan Kesultanan Siak. Salah satunya: Asahan.

Namun, niat itu langsung mentok ketika mereka harus berhadapan dengan Sultan Ahmadsyah. Residen Riau, seorang pejabat kolonial bernama Elisa Netscher, mencoba cara halus dulu. Ia mengundang Sultan Ahmadsyah buat ngobrol di atas kapal. Tapi sang sultan? Dengan lantang menolak. Ia tahu, naik ke kapal bisa jadi awal dari kehilangan kedaulatan.

1865: Belanda Bawa Rombongan, Asahan Tetap Melawan

Belanda baper? Mungkin. Karena tiga tahun kemudian, mereka datang dengan niat lebih serius: ekspedisi militer penuh gaya invasi film perang. Setengah batalion infanteri, kapal perang berderet, mortir, senjata berat, dan lebih dari 350 pasukan gabungan Eropa dan pribumi. Target: Tanjung Balai, ibu kota Kesultanan Asahan.

Pertempuran pecah. Meski perlawanan gigih, kekuatan militer Belanda akhirnya menaklukkan istana. Tapi Sultan Ahmadsyah? Ia bukan tipe yang mudah ditangkap. Bersama keluarganya, ia kabur ke pedalaman.

Dibuang, Diganti, Lalu Diperjuangkan Kembali

Belanda pun gercep: Sultan Ahmadsyah, adiknya Tengku Adil, dan keluarganya dibuang. Ada yang ke Bengkalis, ada yang ke Bogor, bahkan sampai Ambon. Di Asahan, posisi sultan digantikan tokoh pilihan Belanda: Sultan Muda Nikmatullah.

Namun, kekuasaan baru ini tak berlangsung tenang. Rakyat Asahan melawan. Berkali-kali. Belanda kewalahan menghadapi perlawanan yang seperti tak ada habisnya. Sampai akhirnya, mereka sadar: solusi damai lebih masuk akal.

Balik Lagi Jadi Sultan, Tapi Harus “Main Cantik”

Pada 1886, setelah tawar-menawar yang alot, Sultan Ahmadsyah akhirnya menandatangani perjanjian dengan Belanda (Akte van Bevestiging). Isinya: Asahan kembali dipimpin oleh Sultan Ahmadsyah, tapi harus menjaga hubungan baik dengan Belanda, nggak boleh kerja sama dengan negeri lain tanpa izin, dan harus dukung program ekonomi—terutama perkebunan yang lagi jadi primadona kolonial.

Sultan Ahmadsyah kembali, tapi tentu dalam konteks yang lebih kompleks. Ia tetap raja, tapi kali ini harus bermain diplomasi sambil menjaga marwah negerinya.


Kenapa Kisah Ini Penting Buat Kita Hari Ini?

Karena Sultan Ahmadsyah adalah contoh pemimpin lokal yang tahu kapan harus melawan, dan kapan harus negosiasi. Ia bukan tokoh ideal yang selalu menang, tapi ia adalah representasi dari realitas perjuangan di masa kolonial: rumit, penuh strategi, dan seringkali berada di antara prinsip dan kompromi.

Dan hey, kalau zaman dulu beliau bisa tegas menolak naik kapal penjajah, apa alasan kita hari ini untuk nggak berani berdiri melawan ketidakadilan?(*)