Jakarta, Ngabarin.com — Kalau kamu pikir penegak hukum itu identik dengan jabatan, jas rapi, dan bicara berputar-putar—tunggu dulu. Kenalan dulu sama sosok satu ini: Dr. Baharuddin Lopa, S.H. Jaksa luar biasa yang dikenal nggak neko-neko, nggak bisa dibeli, dan selalu berdiri di pihak rakyat kecil.
Lahir di Pambusuang, Mandar, Sulawesi Barat, tepat di hari kemerdekaan RI—17 Agustus 1935, Baharuddin Lopa datang dari keluarga terpandang. Tapi jangan salah, meskipun keluarganya berada, mereka bukan tipe yang matre. Lopa kecil tumbuh dengan nilai-nilai kesederhanaan, ketegasan, dan iman yang kuat. Di kampungnya, cuma ada dua pilihan masa depan: jadi ulama atau pelaut. Dan Lopa? Dia memilih jalan hukum—dan menjadikannya jalan perjuangan.
Dari Bupati Muda ke Jaksa Legendaris
Tahun 1958, Lopa memulai kariernya sebagai jaksa muda di Makassar. Hanya dua tahun kemudian, di usia 25 tahun, dia langsung diangkat jadi Bupati Majene pertama. Bukan main. Dan waktu itu? Daerahnya lagi panas-panasnya. Ada pemberontakan, penyelundupan senjata ke Malaysia, dan pemimpin lokal yang bersenjata, Andi Selle.
Apa yang dilakukan Lopa? Bukannya main keras, dia malah mendekati si pemberontak dengan pendekatan hukum dan dialog. Hasilnya? Dia nyaris ditembak mati. Tapi karena pakai mobil polisi, dia disangka aparat dan lolos. Sejak itu, namanya dikenal: berani, konsisten, dan nggak takut mati demi keadilan.
Bukan Jaksa Kaleng-kaleng
Lopa berpindah-pindah tugas, dari Ambon, Ternate, Kendari, sampai Aceh. Tapi satu hal yang nggak pernah berubah: ketegasannya melawan koruptor dan pelanggar hukum, siapa pun mereka. Di Aceh, dia nindak para cukong dan selamatkan uang negara. Di Sulsel, dia bongkar korupsi reboisasi senilai miliaran rupiah lewat “Operasi November”. Di mana pun dia ditempatkan, para pejabat nakal langsung was-was.
Dan jangan bayangin dia cuma galak doang. Di balik ketegasannya, Lopa adalah pembaca berat. Dia hobi baca buku-buku hukum dan keislaman. Salah satu favoritnya? Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali. Al-Qur’an pun selalu jadi teman harian. Intelektual sekaligus spiritual—kombinasi langka di kalangan pejabat.
Moto Hidup: Gaspol atau Tenggelam
Di halaman pertama disertasinya, ada motto dalam bahasa Bugis yang jadi semangat hidupnya:
“Pura tangkisi gulikku; pura babbrak sumpekku; kulebbirengi telling natowalie.”
Artinya? “Sudah kupasang kemudi, sudah kukembangkan layar. Lebih baik aku tenggelam daripada mundur kembali.”
Yes. Totalitas tanpa batas. Bagi Lopa, kalau sudah punya niat baik—entah menegakkan hukum, membela rakyat kecil, atau melawan mafia—nggak ada alasan buat ragu. Langsung jalan. Lurus. Dan pantang balik arah.
Kepergian Sang Singa Hukum
Dr. Baharuddin Lopa meninggal dunia pada 3 Juli 2001, saat menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan HAM. Kepergiannya bikin banyak orang shock. Sosok yang dikenal bersih, keras kepala demi keadilan, dan nggak bisa diatur oleh kekuasaan itu mendadak tiada. Tapi semangatnya? Tetap hidup sampai hari ini.
Indonesia masih butuh banyak Baharuddin Lopa lain. Di tengah dunia hukum yang sering kabur batas antara kebenaran dan kepentingan, kisah Lopa jadi oase—pengingat bahwa hukum bisa dijalankan dengan hati, bukan hanya pasal.
Jadi, kalau kamu lagi nyari role model penegak hukum yang “no drama, all action”—ingat nama ini: Baharuddin Lopa.
Bukan cuma jaksa, dia legenda.(*)























