Kiras Bangun, Si Mata Merah dari Karo yang Bikin Belanda Frustasi, Jadi Pahlawan di Masa SBY

620

Jakarta, Ngabarin.com — Di balik sejarah panjang perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme, ada satu nama yang tak boleh luput dari spotlight: Kiras Bangun, alias Garamata—julukan yang berarti “mata merah”, karena tatapan tajamnya yang bikin lawan ciut nyali. Ia bukan hanya panglima perang, tapi juga diplomat ulung, juru damai sekaligus juru tempur, yang lahir di Batukarang, Karo, tahun 1852.

Ketika Belanda Coba Masuk, Karo Melawan

Waktu itu, Belanda sedang gencar-gencarnya memperluas wilayah jajahan ke Sumatera Timur. Mereka mulai mengincar tanah adat dan wilayah kampung masyarakat Karo. Tapi masyarakat nggak tinggal diam. Mereka membakar bangsal-bangsal milik Belanda. Dan di tengah kekacauan itu, muncullah sosok pemersatu: Kiras Bangun.

Bukan cuma jago taktik perang, Kiras juga punya skill negosiasi setajam pedang. Ia berhasil menyatukan para sibayak (raja-raja kecil) dan pemuka masyarakat yang punya pasukan sendiri. Total? 3.000 pejuang dari berbagai etnis dan agama bergabung di bawah komandonya.

Ketika Damai Tak Bisa Dibeli

Tahu bahwa Kiras terlalu berpengaruh, Belanda coba jalan halus dulu. Uang? Ditawarkan. Pangkat? Silakan ambil. Tapi Kiras? Gak tertarik. Ia bukan orang yang bisa dibeli.

Lalu, datanglah pendeta Belanda, Guillaume, ke tanah Karo pada 1902 dengan tentara bersenjata lengkap. Kiras tegas: usir dia!. Guillaume bertahan tiga bulan, tapi akhirnya angkat kaki juga. Buat Belanda, ini tamparan keras.

1904: Tembusuh, Benteng yang Tak Tertembus

Tanggal 6 September 1904, Belanda melancarkan invasi. Mereka berhasil menguasai Kabanjahe, Lingga, dan Lingga Julu. Tapi Kiras dan pasukannya mundur strategis ke Batukarang, membangun pertahanan di Benteng Tembusuh—dan Belanda pun mentok di sana. Serangan pertama? Gagal total.

Namun Belanda pantang menyerah. Serangan kedua akhirnya membuat Batukarang jatuh. Meski begitu, Kiras tak mundur. Selama 10 bulan setelahnya, ia tetap melakukan perlawanan gerilya. Sampai akhirnya, Belanda pakai cara licik: menawarkan pengampunan umum (Opportinuteits Beginsiel) untuk siapa saja yang menyerah.

Satu demi satu pasukan mulai goyah. Pertahanan melemah. Akhirnya, Kiras Bangun tertangkap.

Dibuang, Bebas, Melawan Lagi

Kiras dibuang ke Riung selama 4 tahun. Tapi ketika bebas pada 1909, dia tidak pensiun dari perlawanan. Justru di usia yang makin tua, ia bergerilya secara bawah tanah dari 1919 hingga 1926. Akhirnya, Belanda menangkapnya lagi dan menjebloskannya ke Cipinang.

Kiras Bangun menghembuskan napas terakhirnya di tanah kelahirannya, Batukarang, pada 10 Oktober 1942.

Legacy: Si Mata Merah yang Tak Padam

Butuh waktu puluhan tahun sampai Indonesia resmi mengakui jasanya. Baru pada 9 November 2005, Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuknya. Tapi buat rakyat Karo, Kiras Bangun sudah jadi legenda jauh sebelum itu.


🎖️ Kenapa Kiras Bangun Layak Diingat?

Karena dia bukan hanya simbol perlawanan fisik, tapi juga moral. Ia tak menjual prinsip, tak menyerah pada bujukan, dan tak berhenti berjuang meski dunia membatasinya.

Kalau kisahnya difilmkan? Jelas bisa jadi film perang-diplomasi yang epik. (*)