Jenderal Hoegeng: Polisi Legendaris yang Nggak Bisa Disuap, Serius!

320

Jakarta, Ngabarin.com — Di dunia yang penuh dengan cerita polisi “nakal”, sosok satu ini justru jadi legenda karena nggak bisa disuap sama sekali. Namanya: Jenderal Hoegeng Imam Santoso, Kapolri ke-5 RI yang menjabat dari tahun 1968 sampai 1971. Tapi tunggu dulu—ini bukan kisah Kapolri biasa. Ini cerita tentang sosok langka yang jadi simbol integritas dan keberanian di tengah sistem yang penuh jebakan korupsi.

Hoegeng nggak cuma dikenal karena pangkat jenderalnya. Yang bikin dia dikenang adalah gaya hidupnya yang sederhana, kejujurannya yang gila banget, dan sikap tegasnya dalam melawan korupsi dan gratifikasi—bahkan dari lingkaran dalam sekalipun.

Presiden ke-4 RI, Gus Dur, pernah nyeletuk ikonik soal dia:

“Hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.”
Dan kita semua tahu… itu bukan lelucon semata.

Siapa Sih Hoegeng Sebenarnya?

Hoegeng lahir di Pekalongan pada 14 Oktober 1921. Nama aslinya Iman Santoso, tapi kemudian jadi “Hoegeng”—asalnya dari panggilan masa kecilnya, bugel, yang lama-lama berubah. Anak dari seorang jaksa dan ibu rumah tangga, Hoegeng tumbuh jadi anak yang punya cita-cita jelas: jadi polisi yang jujur, terinspirasi dari sahabat ayahnya.

Perjalanannya ke puncak dimulai dari bangku HIS, lalu ke MULO, dan akhirnya AMS. Di masa muda, ia sempat kuliah hukum di Batavia. Tapi datanglah masa pendudukan Jepang—dan di situlah ia mulai menapaki karier militer dan kepolisian. Mulai dari latihan militer Jepang sampai jadi Komandan Tentara Laut di Jawa Tengah.

Hoegeng menjelajahi berbagai posisi penting: dari Kepala Polisi Jomblang, Kepala Reserse Kriminal di Medan, hingga Kepala Jawatan Imigrasi. Di era Presiden Soekarno, dia juga sempat jadi Menteri Luar Negeri dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti. Tapi dream job-nya tetap satu: jadi polisi sejati. Dan itu ia capai saat diangkat jadi Kapolri pada 5 Mei 1968.

Gaya Hidup Anti-Korupsi

Saat menjabat Kapolri, Hoegeng dikenal sangat blak-blakan dan nggak neko-neko. Rumahnya biasa aja, mobil dinasnya pun standar. Istrinya, Meriyati, bahkan tetap antre di pasar tanpa pengawalan. Kalau ada orang yang ngasih amplop atau hadiah, dia tolak mentah-mentah. No kompromi.

Dia pernah membongkar kasus penyelundupan kelas kakap dan menghadapi tekanan dari oknum elite. Tapi Hoegeng tetap teguh, meski akhirnya pensiun dini karena dianggap “terlalu bersih” untuk sistem yang ada saat itu.

Warisan yang Tetap Hidup

Hoegeng meninggal dunia pada 14 Juli 2004. Tapi namanya terus hidup, bukan hanya sebagai legenda polisi, tapi sebagai simbol kejujuran di tengah kegelapan birokrasi. Banyak yang bilang: Indonesia butuh lebih banyak Hoegeng. Dan itu benar banget.

Di tengah generasi yang akrab dengan meme dan viral culture, nama Hoegeng seharusnya tetap dibicarakan. Bukan cuma sebagai pahlawan masa lalu, tapi sebagai role model masa kini.

Karena di zaman di mana kejujuran itu langka banget, kisah Hoegeng jadi pengingat bahwa jadi benar itu keren—dan ya, tetap bisa bikin orang segan sekaligus hormat.


Kalau kamu lagi cari panutan yang beneran bisa dipercaya, nggak perlu jauh-jauh. Ingat Hoegeng sang Polisi Sejati. (*)