Jakarta, Ngabarin.com — Kalau ngomongin pahlawan nasional yang hidupnya bisa dijadiin film thriller politik kelas Oscar, nama Tan Malaka wajib banget masuk daftar. Tokoh satu ini bukan cuma pahlawan yang ditetapkan oleh Sukarno lewat Keppres No. 53 Tahun 1963, tapi juga seorang pemikir brilian, petualang politik, penulis tajam, dan bisa dibilang… terlalu “maju” buat zamannya.
Tan Malaka, Si Anak Minang yang Jadi Warga Dunia
Nama aslinya? Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka. Lahir di Sumatera Barat, 2 Juni 1897. Dibesarkan di Minangkabau, tapi pikirannya jauh melampaui batas kampung. Setelah lulus dari Kweekschool Bukittinggi (sekolah guru zaman Belanda), Tan lanjut sekolah ke Belanda. Ya, ke Eropa. Biayanya? Hasil patungan warga sekampung dan guru-gurunya yang percaya sama potensi dia.
Awalnya dia cuma pengin jadi kepala sekolah. Tapi takdir berkata lain — sakit membuatnya hanya dapat sertifikat guru biasa. Tapi dari sanalah, benih-benih radikalisme berpikiran maju mulai tumbuh.
Dari Kuli Perkebunan ke Arena Politik Dunia
Balik ke Indonesia, Tan sempat ngajar anak-anak kuli teh di Deli, Sumatera Utara. Tapi gak lama, dia hijrah ke Jawa dan ikut Sarekat Islam Semarang — yang saat itu udah mulai “kiri” banget. Dia sempat memimpin PKI (yes, Partai Komunis Indonesia!) sebelum akhirnya diusir pemerintah kolonial.
Habis itu? Tan jadi sosok misterius. Hidupnya kayak agen rahasia. Dia pakai banyak nama samaran — Ilyas Husein di Indonesia, Alisio Rivera di Filipina, Ossorio di Shanghai, Ong Soong Lee di Hong Kong. Serius, ini bukan plot film spionase, tapi kisah nyata.
Tan sempat jadi bagian dari Comintern (Komunis Internasional) dan ke Rusia untuk belajar serta debat panas sama tokoh-tokoh besar macam Stalin (yang akhirnya malah berseteru dengannya karena dianggap Trotskyist).
Madilog, Revolusi, dan Perlawanan Tanpa Henti
Di masa penjajahan Jepang, Tan menyamar sebagai mandor di Banten sambil nulis karya magnum opus-nya: Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Bukan buku sembarangan — ini semacam panduan berpikir kritis bagi anak bangsa.
Setelah Indonesia merdeka, Tan Malaka nggak tinggal diam. Dia menolak keras kompromi dengan Belanda. “Merdeka 100% atau nggak sama sekali,” katanya. Dia dianggap otak di balik Peristiwa 3 Juli 1946 dan bikin gerakan Persatuan Perjuangan bareng Jenderal Sudirman.
Akhir Tragis Sang Pemberontak Idealistis
Sayangnya, pemikiran Tan yang terlalu keras kepala dan idealis justru bikin dia dimusuhi banyak pihak — termasuk tentara Indonesia sendiri. Tan dieksekusi tanpa pengadilan oleh Brigade Sikatan di Kediri, Februari 1949. Ironisnya, dia mati di tangan bangsanya sendiri, bukan di tangan penjajah.
Tapi ya gitu, sejarah kadang baru bisa memaafkan setelah puluhan tahun. Sukarno akhirnya mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional, tapi… potret dan kisah heroiknya tetap jarang disuarakan di buku-buku pelajaran.
Buku-Buku Tan Malaka: Dari Filsafat sampai Revolusi
Bicara soal pemikirannya, Tan bukan kaleng-kaleng. Ini beberapa bukunya yang wajib masuk rak bacaan aktivis atau siapa pun yang haus ide-ide orisinil dan liar:
- Madilog: Filsafat kiri yang ditulis dalam bahasa yang ‘ngagetin’ untuk ukuran Indonesia waktu itu.
- Aksi Massa: Strategi perjuangan lewat kekuatan rakyat, bukan elit.
- Dari Penjara ke Penjara: Memoar epik perjalanan hidup dan politiknya.
- Gerpolek: Tentang perjuangan rakyat bersenjata. Jenderal Sudirman bahkan menganggapnya sebagai buku strategi perang!
- Menuju Merdeka 100%: Kalau pengin tahu kenapa Tan selalu “ngegas”, ini jawabannya.
- Plus banyak lagi karya pamungkas lainnya.
Penutup: Tan Malaka, Pahlawan yang Tak Pernah Kompromi
Kalau hari ini banyak anak muda suka bilang, “Aku gak mau hidup setengah-setengah,” well, Tan Malaka udah ngejalanin itu sejak seabad lalu. Ia tak kenal kompromi, menolak dijinakkan, dan memilih jalan sunyi perjuangan yang sering gak dimengerti orang-orang di sekitarnya.
Kini saatnya kita mengenal Tan bukan cuma sebagai nama jalan di kota-kota besar, tapi sebagai simbol semangat kritis, keberanian berpikir, dan konsistensi yang menginspirasi.
Kalau kamu suka sejarah dengan rasa rebel dan pemikiran segar, Tan Malaka bukan sekadar tokoh masa lalu — dia mungkin adalah pahlawan masa depan yang datang terlalu cepat. (*)























