Sultan Iskandar Muda: Raja Aceh yang Hukum Mati Anak Sendiri Demi Keadilan, Bukan Plot Drama, Ini Nyata!

341

Jakarta, Ngabarin.com — Di era sekarang, cari keadilan itu bisa kayak nyari sinyal di hutan: ada, tapi susah banget dapetnya. Penegakan hukum di Indonesia pun sering bikin geleng-geleng kepala. Tapi coba kita mundur ke masa lalu, ke zaman ketika keadilan enggak cuma jadi jargon politik, tapi benar-benar ditegakkan—bahkan terhadap darah daging sendiri!

Sosok ini adalah Sultan Iskandar Muda, raja besar dari Kerajaan Aceh yang gak cuma dikenal karena kejayaannya, tapi juga karena satu keputusan besar yang terdengar kayak plot twist dalam serial kolosal: menghukum mati anaknya sendiri, Meurah Pupok.

Yup, kamu gak salah baca. Anak kandung. Dihukum mati. Oleh ayahnya sendiri. Why? Karena sang anak melanggar hukum.

Ketika Hukum Berdiri di Atas Segalanya

Pada masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda benar-benar serius menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat. Dia bangun masjid di banyak daerah, larang judi dan mabuk-mabukan, dan rutin bagi-bagi sedekah tiap habis salat Jumat. Pokoknya raja ideal: religius, bijaksana, dan adil.

Dan untuk urusan hukum? Nggak ada kompromi. Beda banget dengan keadaan sekarang ya. Bahkan kabarnya ada yang merubah aturan supaya anaknya dapat jabatan.

Kembali ke Sultan Iskandar Muda, Untuk menegakkan keadilan Sang Sultan bahkan bikin sistem hukum sendiri yang dinamakan “Adat Meukuta Alam”, disahkan dengan cap kerajaan bernama Cap Siekureueng alias stempel petir (literally badass).

Lalu datanglah kasus yang bikin semua pejabat kerajaan bingung: Putra Mahkota sendiri kedapatan melanggar hukum.

“Anak Bisa Dicari Kuburnya, Tapi Hukum Hilang Mau Dicari di Mana?”

Waktu Meurah Pupok divonis mati, semua pejabat kaget. Mereka nyoba bujuk Sultan agar membatalkan eksekusi. Tapi sang Sultan tetap teguh: kalau gak ada yang berani laksanakan, dia yang akan turun tangan sendiri.

Dari sini muncul pepatah Aceh yang legendaris:

“Mate aneuk mupat jeurat, gadoh adat pat tamita.”
Artinya: “Anak jelas kuburannya, hilang adat (hukum), ke mana hendak dicari?”

Pesannya jelas: keadilan gak boleh pilih-pilih. Hukum harus berlaku untuk semua, tanpa pandang status atau hubungan darah.

Masih Relevan Banget Hari Ini

Kisah ini bukan cuma bagian dari buku sejarah, tapi juga tamparan keras buat kita di era modern. Di saat hukum sering tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kisah Sultan Iskandar Muda ini jadi pengingat bahwa keadilan sejati menuntut keberanian luar biasa.

Gak semua orang sanggup berdiri di atas prinsip, apalagi kalau taruhannya keluarga sendiri. Tapi dari keputusan berat itu, Sultan ngajarin kita satu hal penting: Keadilan bukan tujuan akhir, tapi jalan menuju kesejahteraan bersama.

Dan jelas, zaman dulu bisa—kenapa sekarang enggak?


Kalau kamu suka kisah sejarah yang mind-blowing kayak gini, jangan ragu buat eksplor lebih banyak cerita-cerita kerajaan Nusantara yang tak kalah epik dari drama Netflix!