Singkil: Warisan Peradaban Besar yang Kini “Diperebutkan”

556

 

ACEH SINGKIL — Lagi ramai di jagat media sosial dan headline berita: 4 pulau di Aceh Singkil “diperebutkan” oleh Provinsi Sumatera Utara. Tapi sebelum kita ngomel-ngomel soal batas wilayah, mari kita tarik napas dan kenalan dulu sama daerah yang satu ini: Singkil.

Jangan salah sangka, Singkil bukan cuma soal pantai indah, ikan melimpah, atau hutan yang penuh damar dan rotan. Di balik segala kekayaan alamnya, wilayah ini menyimpan sejarah epik dan warisan budaya yang luar biasa, bahkan sering terlupakan dalam narasi besar Aceh. Padahal, Singkil adalah rumah bagi dua ulama kaliber internasional: Syekh Abdurrauf as-Singkili alias Syiah Kuala dan Syekh Hamzah Fansuri, sang maestro sastra tasawuf Melayu.

“Singkil itu seperti halaman yang sengaja dilipat dalam buku sejarah Aceh. Padahal di situlah babak penting dimulai,” kata seorang pemerhati sejarah lokal.

Di zaman dulu, wilayah ini nggak main-main. Kerajaan-kerajaan di Singkil seperti Tanjung Mas dan Tualang bahkan resmi diakui dan diangkat langsung oleh Sultan Aceh, lengkap dengan keris bawar dan tongkat berjambul emas atau perak. Ada juga yang dikenal sebagai “Raja Sinambelas”, yakni 16 kerajaan kecil yang berdiri secara otonom tapi tetap loyal pada Aceh Darussalam.

Saking pentingnya Singkil, Sultan al-Kahhar (Alauddin Ali Ri’ayatsyah) sampai memberikan simbol jabatan resmi pada para raja lokal. Bahkan, wilayah Simpang Kanan dan Simpang Kiri (kini masuk wilayah sengketa itu!) dulu diberikan sebagai maskawin pernikahan antara Raja Minangkabau dan Putri Aceh. Jadi kalau sekarang muncul klaim, eh, kok jadi kayak rebutan warisan nenek moyang ya?

Sejarah Terpinggirkan, Pahlawan Terlupakan

Ironis memang, Singkil yang dulu menjadi pusat peradaban dan keilmuan kini justru harus “memperjuangkan eksistensi” lewat peta batas administratif. Banyak pahlawan lokal seperti Siti Ambiyah, Teuku Pane, Datuk Murad, hingga Mat Ijo bahkan nggak masuk buku pelajaran.

Padahal, kerajaan Batu-Batu di Simpang Kiri sempat bersekutu dengan Sisingamangaraja dari Bakkara, dan jadi benteng penting melawan kolonial Belanda.

“Dulu kita punya lancara — kapal cepat yang bikin kagum bangsa Eropa. Sekarang, kita rebutan peta,” ujar seorang tokoh adat setempat dengan getir.

Perebutan Pulau: Sejarah Tak Bisa Dihapus Pakai Google Maps

Kini, 4 pulau di wilayah Singkil jadi bahan perdebatan panas antara Aceh dan Sumatera Utara. Tapi kalau ditarik garis sejarahnya, Singkil itu bukan wilayah ‘abu-abu’ — melainkan bagian otentik dari sejarah dan kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam.

Tome Pires, penjelajah Portugis tahun 1512, sudah mencatat Singkil sebagai wilayah strategis yang menghasilkan damar, emas, dan rempah. Kalau sekarang wilayah itu dianggap ‘rawan klaim’, sepertinya kita butuh buka ulang buku sejarah — bukan cuma buka Google Maps.

Saatnya Generasi Muda Bicara

Ini bukan sekadar soal klaim administratif. Ini tentang bagaimana kita sebagai generasi muda mengenali, menjaga, dan membela identitas sejarah yang sudah hampir dilupakan. Singkil bukan sekadar “ujung Aceh” — tapi akar penting dari siapa kita sebagai bangsa dan daerah.

Kalau kamu bangga jadi orang Aceh atau Sumut, yuk cari tahu lebih banyak soal sejarah Singkil. Karena tanpa masa lalu, kita nggak bakal ngerti apa yang lagi kita rebutin hari ini. (*)