JAKARTA, Ngabari.com — Tagar #KaburAjaDulu kini bukan sekadar candaan atau sindiran galau di Twitter. Ia telah menjelma menjadi refleksi kolektif anak muda Indonesia — khususnya Gen Z — yang tengah mengalami kekecewaan sistemik terhadap masa depan di negeri sendiri.
Sebuah survei terbaru dari YouGov, dikutip oleh World Economic Forum, mengungkapkan bahwa 41 persen Gen Z Indonesia memiliki keinginan kuat untuk pindah dan menetap di luar negeri. Persentase ini tercatat paling tinggi di kawasan Asia Tenggara, mengungguli Thailand dan Filipina.
Bukan Sekadar Mimpi, Tapi Rencana Nyata
Farhan (24), lulusan teknik dari Bandung, sudah dua tahun mengikuti kursus bahasa Jerman sembari bekerja sebagai barista. Ia bukan sedang “cari pengalaman”, tapi benar-benar bersiap meninggalkan Indonesia. “Di sini, punya ijazah bagus enggak jamin dapet kerja sesuai skill. Di Jerman, bahkan perawat atau mekanik digaji manusiawi,” katanya.
Bagi banyak Gen Z, keinginan untuk “kabur” bukan semata-mata karena tergiur gaya hidup negara maju. Faktor yang sering disebut adalah:
-
Minimnya kesempatan kerja layak
-
Biaya hidup tinggi dan stagnasi gaji
-
Ketidakstabilan politik
-
Kualitas pendidikan dan kesehatan yang dianggap tidak setara
Patah Hati Terhadap Negeri Sendiri?
Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Lely Trisnawati, menyebut fenomena ini sebagai bentuk “patah hati sistemik.” Gen Z lahir dan tumbuh dalam era digital, dengan akses luas terhadap informasi global. Mereka melihat bagaimana negara lain menangani isu lingkungan, inklusi, hingga ekonomi digital — dan membandingkannya dengan kondisi Indonesia.
“Generasi ini tidak pasif. Mereka menuntut perubahan dan jika tak melihat harapan, mereka memilih pergi,” ujar Lely.
Ironi Bonus Demografi
Fenomena ini pun menimbulkan kekhawatiran. Indonesia sedang berada di puncak bonus demografi — momen langka di mana jumlah usia produktif memuncak. Tapi jika mereka memilih pindah atau tidak merasa betah, potensi ekonomi dan sosial itu bisa melayang.
“Kita bisa kehilangan generasi emas hanya karena gagal memberi mereka alasan untuk bertahan,” kata ekonom Aviliani dari INDEF.
Menangkap Sinyal, Merespons Cepat
Beberapa negara seperti Kanada, Australia, hingga Jepang kini agresif membuka jalur imigrasi tenaga kerja muda. Di sisi lain, Indonesia justru masih berkutat dengan birokrasi ketenagakerjaan dan sistem pendidikan yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan global.
Pemerintah pun mulai menyusun strategi untuk menahan arus eksodus ini. Beberapa langkah seperti program Kartu Prakerja, pelatihan digital, hingga insentif wirausaha mulai diperluas.
Namun, bagi banyak Gen Z, solusi itu terasa telat dan tambal sulam.
Apakah “kabur” adalah jawaban?
Tidak semua yang ingin pergi membenci Indonesia. Banyak dari mereka justru ingin kembali suatu saat, membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun tanah air. Tapi mereka ingin tempat yang memberi mereka ruang untuk tumbuh, sekarang.
Dan sampai sistem itu hadir, narasi #KaburAjaDulu tampaknya akan terus hidup — sebagai simbol frustrasi, sekaligus harapan akan perubahan yang tak kunjung nyata.























