Kisah Agam Rinjani Perjuangkan Harga Diri Bangsa Dengan Menantang Maut di Gunung Rinjani

360

Jakarta, Ngabarin.com — Di era ketika cinta sering kali dinilai dari seberapa viralnya hubungan di TikTok, ada seorang pria dari Makassar yang diam-diam jatuh cinta. Bukan pada manusia, bukan pada tokoh fiksi, tapi pada gunung. Tepatnya: Rinjani.

Namanya Agam Rinjani. Ia bukan selebgram alam, bukan juga influencer survival gear. Tapi kisahnya jauh lebih dalam dari sekadar konten. Ini adalah cerita tentang cinta yang suci pada sesuatu yang diam dan agung: sebuah gunung.

Pertama kali ia menginjak Rinjani saat masih mahasiswa semester tiga. Sejak itu, hatinya tertinggal di sana. Ia lulus kuliah antropologi tahun 2015, dan dengan hanya Rp10.000 di kantong, ia kembali ke pelukan Rinjani — bukan sebagai pendaki biasa, tapi sebagai penjaga, sebagai pencinta yang tak minta balasan.

“Rinjani itu komplit,” katanya, dengan mata yang menyala.

Ia bercerita bahwa Rinjani punya semuanya: savana seperti Merbabu, pasir seperti Semeru, hutan seperti Sulawesi, dan air panas seperti pelukan semesta. Gunung ini, baginya, bukan hanya bentang alam — tapi simfoni jiwa yang tak bisa dituliskan, hanya bisa dirasakan.

Namun, seperti halnya cinta yang sejati, keindahan ini tak pernah datang tanpa luka. Tragedi Juliana Marins — pendaki asal Brasil yang hilang di Rinjani — jadi babak paling pahit dalam kisahnya.

Saat itu, Agam sedang di Jakarta bersama tim, berbicara dengan beberapa brand soal alat keselamatan. Begitu kabar buruk datang, mereka terbang ke Lombok. Hari ketiga baru menginjak tanah, mereka langsung menuju lokasi. Waktu tak menunggu siapa pun.

Salah satu rekan Agam, Samsul Padhli, bahkan bermalam sendirian di tebing dengan kedalaman 400 meter, ditemani hanya oleh sunyi dan harap. Sayangnya, saat itu jasad Juliana belum juga ditemukan.

Agam dan enam rekannya mencoba jalur evakuasi via danau Segara Anak. Tapi malam terlalu pekat, dan jalur terlalu berbahaya. Mereka terpaksa menunda.

“Seandainya hujan turun malam itu, kami semua mati,” katanya pelan.

Batu-batu di sana tidak berdiri — mereka menggantung, menunggu alasan untuk longsor.

Namun bukan ketakutan yang menguasai mereka. Bukan juga ingin menjadi pahlawan. Mereka turun bukan karena nama, melainkan karena harga diri bangsa. Karena di balik semua drama, ada luka diplomatik yang harus dijahit ulang.

“Kami ingin menaikkan nama Indonesia yang sudah buruk di mata orang luar, terutama Brasil,” katanya dengan nada yang tak menggertak, tapi menggugah.

Ia bahkan mengibarkan bendera merah putih di tengah medan ekstrem. Bukan demi konten. Tapi demi membakar semangat yang nyaris padam di dada timnya.


Sebab kadang, cinta yang paling murni bukan yang bersuara—tapi yang rela diam di tengah badai, demi menjaga sesuatu tetap utuh.

Agam dan Rinjani adalah dua nama yang seolah menyatu. Ia tidak memiliki gunung itu. Tapi seperti kata Gibran,

“Cinta tidak memiliki dan tidak dimiliki, karena cinta telah cukup bagi cinta.”

Dan dari Rinjani, kita belajar: bahwa nasionalisme tidak selalu datang dalam bentuk pidato dan bendera besar, tapi bisa muncul dari seorang pria biasa, yang memilih tinggal di gunung, menjaga jalurnya, dan tetap bertahan… bahkan saat hidup hanya bergantung pada doa dan tali carabiner.