Jakarta, Ngabarin.com — Penyelamatan pendaki asal Brasil, Juliana Marins, di Gunung Rinjani emang bikin banyak orang terenyuh. Tapi ternyata, bukan cuma netizen yang gerah — DPR juga ikut buka suara. Tepatnya dari Komisi V DPR RI, Anggota Fraksi NasDem, Mori Hanafi, menyebut aksi evakuasi ini terlalu… manual.
Yes, kamu nggak salah baca.
Dalam rapat resmi bareng Basarnas dan BMKG (Senin, 7 Juli 2025), Mori bilang cara penyelamatan Juliana itu ibarat masih “zaman batu”. Korban digotong rame-rame, pakai sistem tarik tambang, dari kedalaman 600 meter. “Ini cara-cara tradisional banget, Pak. Kita udah hidup di era digital, tapi penyelamatan masih full manual?” sentilnya ke Kabasarnas, Marsekal Madya TNI M Syafi’i.
📉 Teknologi Ada, Tapi Nggak Dimaksimalkan?
Mori nggak asal nyinyir. Ia paham kondisi Gunung Rinjani memang nggak main-main: cuaca ekstrem, kabut tebal, medan super curam. Bahkan helikopter yang dikirim Basarnas pun nggak bisa mendarat.
Tapi ia menegaskan, justru di situlah teknologi seharusnya jadi andalan utama.
“Bencana-bencana ke depan ini harusnya didekati dengan IT dan teknologi yang adaptif. Harusnya kita udah punya sistem informasi penyelamatan yang canggih dan terintegrasi,” jelasnya.
Mori juga mendorong Basarnas untuk investasi ke perangkat SAR modern, seperti drone penyelamat, rescue cable otomatis, sensor geolokasi, dan sistem komunikasi satelit.
📍 Kronologi Mencekam: Dari 100 Meter ke 600 Meter
Juliana awalnya dilaporkan jatuh ke jurang sedalam 100-200 meter. Tapi keesokan harinya, ia malah makin turun — sampai 600 meter ke bawah. Dan inget ya, ini bukan sekadar jurang biasa. Rinjani punya kontur tanah ekstrem, berbatu, dan minim akses.
Evakuasi pun dilakukan secara konvensional: pakai tali panjang, gotong-royong fisik, dan tenaga manusia.
“Bayangin narik tali 600 meter di medan gunung. Itu nggak main-main, Pak. Saya apresiasi perjuangan tim SAR lokal, tapi kita juga harus jujur, cara ini terlalu berat dan bisa membahayakan tim penyelamat juga,” kata Mori.
🧠 Basarnas, Saatnya Upgrade ke Versi 5.0
Apa sih intinya? Bukan soal menyalahkan siapa-siapa. Tapi menurut DPR, ini jadi momen penting untuk refleksi.
📌 Indonesia adalah negara rawan bencana, dari gunung, gempa, sampai banjir. Jadi, sistem penyelamatan harus siap dan relevan dengan tantangan zaman. Kalau dunia sudah bicara soal AI dan rescue robot, kita nggak boleh terus-menerus bergantung ke metode konvensional.
💬 “Kita Butuh Lebih dari Sekadar Helikopter”
Mori bilang: helikopter penting, tapi bukan segalanya. Harus ada rencana cadangan saat cuaca buruk melanda. Harus ada inovasi yang bikin penyelamatan tetap bisa dilakukan meski di medan sulit. Dan harus ada kolaborasi lintas sektor — teknologi, SAR, militer, dan pemda.
Karena, pada akhirnya, nyawa manusia nggak boleh ditunda oleh keterbatasan teknologi.
🔍 So, What’s Next?
Apakah kritik DPR ini akan bikin Basarnas evaluasi sistemnya? Apakah ke depan kita bakal lihat tim SAR Indonesia pakai drone thermal scanner atau bahkan AI rescue robot?
Let’s hope so.
Karena pendaki di gunung, korban bencana, atau siapa pun yang butuh pertolongan, layak diselamatkan dengan cara yang paling cepat, aman, dan modern. (*)























