Jakarta, Ngabarin.com — Korea Selatan mungkin dikenal dunia lewat K-pop, K-drama, skincare glowing, dan oppa-oppa yang bikin hati deg-degan. Tapi di balik gemerlapnya budaya pop, ada krisis serius yang lagi membayangi: kesehatan mental.
Data terbaru dari Layanan Tinjauan dan Penilaian Asuransi Kesehatan Korea Selatan (2022) menunjukkan tren yang mengkhawatirkan — jumlah orang yang menjalani pengobatan karena depresi meledak dan untuk pertama kalinya tembus lebih dari 1 juta kasus dalam satu tahun! 😳
📈 Lonjakan Kasus dalam 5 Tahun Terakhir
Biar lebih kebayang, yuk kita lihat angkanya:
- 2018: 753.011 pasien
- 2019: 799.038 pasien
- 2020: 832.329 pasien
- 2021: 915.294 pasien
- 2022: 💥 1.000.032 pasien
Artinya, dalam lima tahun terakhir, terjadi lonjakan +32,8% kasus depresi. Dan ini bukan cuma soal angka, ya — ini soal jutaan orang yang berjuang secara emosional dan mental setiap harinya. 😞
💸 Biaya Kesehatan Mental Meningkat
Dengan makin banyaknya pasien, otomatis biaya pengobatan juga ikutan naik. Total biaya pengobatan depresi di Korea Selatan pada tahun 2022 menyentuh angka 537,8 miliar won atau sekitar Rp6,3 triliun. Rata-rata, satu pasien bisa menghabiskan sekitar Rp6,3 juta per tahun untuk biaya medis.
👩🦰 Cewek 20-an Paling Rentan?
Nah, ini fakta yang mencolok: dari total pasien, dua pertiganya adalah perempuan. Di tahun 2022, ada 674.050 perempuan yang menjalani pengobatan depresi — dua kali lipat lebih banyak dibanding laki-laki (325.982 orang).
Yang lebih spesifik, kelompok wanita usia 20-an jadi yang paling banyak mengalami depresi:
- 20-an: 194.200 pasien
- 30-an: 164.942 pasien
- 60-an: 149.365 pasien
- 40-an: 146.842 pasien
Menurut Profesor Jon Duk-in, psikiater dari Universitas Hallym, kondisi ini disebabkan oleh kombinasi antara biologi (hormon) dan faktor sosial, seperti tekanan sosial, diskriminasi tak terlihat di dunia kerja (glass ceiling), hingga ekspektasi yang tinggi di usia produktif.
“Perempuan lebih mudah mengenali gejala dan mencari bantuan medis, sementara banyak laki-laki yang justru mengabaikan atau menyembunyikan masalah emosional mereka,” tambahnya.
🧠 Pemerintah Mulai Bergerak
Kondisi ini bikin pemerintah Korea Selatan akhirnya mulai serius menggarap isu kesehatan mental. Di bawah Presiden Yoon Suk-yeol, pemerintah meluncurkan program pemeriksaan kesehatan mental rutin setiap dua tahun sekali untuk anak muda usia 20 hingga 34 tahun.
Mereka juga memperluas layanan konseling yang disesuaikan untuk berbagai kelompok usia. Langkah ini diambil karena depresi sering berkaitan erat dengan meningkatnya kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri — masalah yang sayangnya masih jadi momok di Korea Selatan.
🧘♀️ Apa Pelajarannya Buat Kita?
Kita semua — baik di Seoul, Jakarta, atau di mana pun — butuh sadar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan ragu buat cerita, cari bantuan, atau bahkan sekadar istirahat kalau hati dan kepala lagi berat.
Ingat, nggak harus kuat terus. Bahkan idola-idola kita pun bisa rapuh, dan itu wajar. Jadi yuk, saling support dan jangan pernah anggap remeh kata “aku capek.”
💬 Kalau kamu lagi struggling atau kenal seseorang yang butuh bantuan, ada banyak layanan konseling dan komunitas support yang siap dengerin kamu. You’re not alone.(*)























