Wayang Kulit Melayu, Simbol Dialog Antar Peradaban

167
Interaksi harmonis antara masyarakat Melayu dan Jawa telah terjalin sejak era pra-kolonial, tercermin dalam penyebaran budaya “wayang kulit” yang menjadi simbol dialog antarperadaban.
Migrasi seniman Jawa ke pusat kebudayaan Melayu seperti Kelantan dan Pattani pada abad ke-15, membawa teknik pertunjukan wayang, yang kemudian diadaptasi dengan cita rasa lokal. Proses ini bukan sekadar peniruan, melainkan kolaborasi kreatif yang melibatkan pertukaran bahasa, nilai, dan kepercayaan.
Contoh nyata terlihat dalam transformasi cerita Ramayana. Versi Jawa yang sarat simbol Hindu disulap menjadi Hikayat Seri Rama dalam bahasa Melayu, dengan penekanan pada nilai kepahlawanan universal dan disisipi unsur Islam. Penelitian Patricia Matusky (2004) menunjukkan bahwa wayang kulit Melayu menggunakan dialek Kelantan dan musik rebab sebagai pengganti gamelan Jawa, menandakan proses lokalisasi yang respek terhadap identitas kedua pihak. Bahkan, tokoh punakawan seperti Pak Dogol dalam wayang Melayu diyakini terinspirasi dari tokoh perwayangan Jawa, tetapi dikemas dengan humor dan konteks sosial Melayu.
Meski Wayang kulit Melayu menghadapi tantangan akibat gesekan dengan “nilai-nilai Islam”. Sejak abad ke-19, ulama seperti Syeikh Daud al-Fatani mengkritik wayang karena dianggap mengandung unsur syirik (penyekutuan Tuhan). Namun, para seniman Melayu melakukan Islamisasi konten, seperti mengganti cerita Ramayana dengan kisah Nabi Yusuf atau epik Islam seperti Hikayat Amir Hamzah. Termasuk juga di dalamnya menghilangkan ritual persembahan kepada roh leluhur.
Studi oleh Ghulam-Sarwar Yousof dalam Panggung Inu: Essays on Traditional Malay Theatre (2004) mencatat bahwa adaptasi ini menunjukkan kelenturan budaya Melayu dalam mempertahankan warisan seni sambil menyesuaikan diri dengan norma agama.
Terlepas dari kontroversi tersebut di atas, adaptasi ini hanya mungkin terjadi jika ada hubungan saling percaya dan apresiasi antara kedua kelompok. Kesultanan Melaka, sebagai pusat perdagangan abad ke-15, menjadi saksi interaksi intensif pedagang Jawa dengan elit Melayu, di mana kesenian digunakan sebagai media diplomasi.
Anthony Reid (1999) menegaskan bahwa wayang adalah produk “budaya pelabuhan” Melayu—sebuah ruang temu di mana pengaruh Jawa diolah tanpa menghilangkan roh lokal.
Warisan ini membuktikan bahwa hubungan Melayu-Jawa bukan sekadar transaksi ekonomi, apalagi dominasi dan penaklukan atas satu kepada yang lainnya, tetapi jalinan sosial-budaya yang dibangun atas dasar mutualisme.
Wayang kulit Melayu, dengan akar Jawa dan jiwa Melayu, adalah monumen hidup yang mengisahkan persahabatan lintas etnis yang telah bertahan berabad-abad.