Jakarta, Ngabarin.com — Pernah membayangkan ribuan orang tumpah ruah ke pantai cuma buat melihat… patung kuda terbang? Welcome to Festival Tabuik, perayaan budaya penuh warna yang jadi highlight tahunan warga Pariaman, Sumatra Barat!
Meski nama dan bentuknya terdengar seperti mitologi, Tabuik bukan sekadar atraksi. Ini adalah representasi emosional dan spiritual dari kisah duka paling besar dalam sejarah Islam: wafatnya Imam Hussein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam tragedi Karbala pada 10 Muharam, 680 Masehi.
Apa Itu Tabuik?
Kata Tabuik sendiri diambil dari bahasa Arab tabut, alias peti. Tapi di Pariaman, tabuik bukan cuma peti biasa—ia menjelma jadi patung megah setinggi 12 meter berbentuk kuda bersayap dengan kepala perempuan, lengkap dengan sayap lebar, ekor panjang, dan peti di punggungnya. Epik banget.
Konon, dalam legenda, setelah wafatnya Imam Hussein, peti berisi potongan tubuh beliau diangkat ke langit oleh makhluk mistis bernama Buraq. Nah, makhluk ini lah yang jadi inspirasi bentuk patung Tabuik tiap tahunnya.
Asal Usul: Dari Sepoy India ke Pesisir Sumatra
Cerita uniknya, tradisi ini dibawa oleh para tentara Inggris keturunan India (disebut Sepoy) yang dulunya menganut Syiah dan pernah bermukim di Bengkulu. Ketika Inggris cabut dari wilayah itu (setelah Traktat London 1824), beberapa Sepoy memilih menetap di Pariaman.
Dari sanalah perayaan Asyura versi budaya India itu mulai hidup di tanah Minang, bahkan sampai diterima oleh masyarakat lokal yang mayoritas menganut Islam Syafi’i.
Sejak sekitar tahun 1831, Festival Tabuik jadi semacam “drama kolosal spiritual” yang penuh emosi, estetika, dan tentu saja: atraksi massa.
Dua Tabuik, Satu Kota, Satu Cerita
Setiap tahun, ada dua tabuik yang dibuat:
- Tabuik Pasa (pasar), dari sisi selatan sungai Pariaman
- Tabuik Subarang, dari sisi utara alias Kampung Jawa
Dua kelompok ini akan membangun tabuik mereka masing-masing dari bahan bambu, rotan, kayu, kain, dan kertas warna-warni. Semuanya handmade, turun-temurun dari para pengrajin budaya di “Rumah Tabuik”.
7 Hari, 7 Ritual: Prosesinya Enggak Main-Main
Bukan cuma arak-arakan. Festival Tabuik terdiri dari 7 tahapan ritual sakral yang dimulai sejak 1 Muharam. Ini bukan sekadar “pawai budaya”, ini adalah spiritual experience:
- Mengambil Tanah – simbolik dari awal penciptaan manusia
- Menebang Batang Pisang – mewakili pemisahan hidup dan mati
- Mataam – ekspresi kesedihan mendalam
- Mengarak Jari-jari – bagian dari simbolisasi kereta
- Mengarak Sorban – sebagai simbol kepemimpinan spiritual
- Tabuik Naik Pangkek – momen di mana patung dinaikkan
- Hoyak Tabuik & Pembuangan ke Laut – puncak klimaksnya, ketika tabuik diarak ke Pantai Gandoriah dan dilarung ke Samudra Hindia.
Yes, mereka “membuang” Tabuik ke laut sebagai simbol pengangkatan ruh Imam Hussein ke surga.
Tabuik = Festival Rakyat + Wisata Spiritual
Sejak tahun 1982, Festival Tabuik resmi jadi bagian dari kalender pariwisata Sumatra Barat. Dan jangan salah, ini bukan festival kecil-kecilan. Puluhan ribu orang datang tiap tahun, termasuk turis mancanegara yang penasaran sama sensasi budaya yang satu ini.
Bayangkan: dua tabuik kolosal, diarak dengan tabuhan gendang tasa yang menghentak, lautan manusia berdesakan di sepanjang jalan kota, lalu sorak sorai menjelang maghrib ketika Tabuik “diterbangkan” ke laut.
Pop Culture Meets Spiritual Legacy
Kalau biasanya festival identik dengan musik dan kuliner, Tabuik adalah simfoni antara sejarah, mitologi, dan iman. Perpaduan unik budaya Syiah India, kearifan lokal Minangkabau, dan kreativitas visual membuat Festival Tabuik layak disebut sebagai salah satu perayaan budaya paling ikonik di Indonesia.
Dan ya, meski masyarakat Pariaman bukan penganut Syiah, mereka tetap menjaga dan merayakan tradisi ini—sebagai warisan budaya yang sarat makna, bukan semata ajaran agama.
So, Waktunya #BucketList Baru
Kalau kamu pencinta budaya, fotografer jalanan, penikmat sejarah, atau sekadar pemburu pengalaman baru—Festival Tabuik adalah destinasi spiritual pop culture yang wajib kamu lihat langsung.
Tabuik bukan sekadar festival. Ini perjalanan rasa. Sebuah perayaan duka, yang diwarnai semangat, kreativitas, dan kebersamaan. (*)























