Zero ODOL 2026: Perang Melawan Truk-truk Monster yang Rusak Jalan dan Makan Korban Jiwa

453

Jakarta, Ngabarin.com — Jalan tol rusak, jembatan bolong, truk terguling, dan tiba-tiba macet total di jalan nasional. Ini bukan cuplikan film distopia, tapi kenyataan yang sering kita alami di Indonesia. Dan salah satu biang keroknya? Truk ODOL alias Over Dimension Over Loading. Singkatnya: truk yang terlalu besar dan terlalu berat.

Selama bertahun-tahun, truk ODOL dibiarkan berkeliaran di jalanan Indonesia. Bukan cuma bikin infrastruktur cepat rusak, tapi juga jadi ancaman nyata bagi keselamatan. Data dari Korlantas Polri menunjukkan bahwa hanya dari Januari hingga Oktober 2024 saja, sudah terjadi 220.647 kasus kecelakaan lalu lintas, dan 22.970 di antaranya menelan korban jiwa. Sebagian besar disebabkan oleh kendaraan berat yang tidak layak jalan.

Melihat darurat ini, pemerintah akhirnya menegaskan targetnya: Zero ODOL 2026. Dan sebagai payung hukumnya, Presiden tengah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) agar penindakan terhadap truk ODOL tak lagi setengah hati.


Kenapa Perpres, Bukan Undang-Undang?

Biasanya, untuk hal besar seperti ini, kita akan menunggu DPR membuat undang-undang. Tapi tunggu dulu, pembuatan UU bisa makan waktu bertahun-tahun. Sementara, nyawa orang melayang tiap hari karena truk ODOL.

Makanya, menurut Anggota Komisi V DPR RI dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara 1 – Lokot Nasution, langkah pemerintah menerbitkan Perpres adalah pilihan cerdas dan tepat waktu.

“Saya mengapresiasi keputusan pemerintah yang memilih jalur Perpres ketimbang menunggu terbitnya UU. Dalam konteks keselamatan jalan dan efisiensi logistik, waktu adalah nyawa,” ujar Lokot kepada wartawan.


Truk ODOL: Monster Jalanan yang Merugikan Semua Orang

Truk ODOL itu ibarat monster di jalan raya. Mereka bawa muatan berlebih, dimensi melebihi standar, kadang bahkan dimodifikasi sendiri oleh pemiliknya — panjang sasis ditambah, lebar bak ditarik. Semua dilakukan demi satu hal: cuan.

Tapi, cuan satu pihak justru merugikan negara hingga Rp 43 triliun per tahun, menurut data Kementerian PUPR. Dana itu dihabiskan untuk memperbaiki jalan, jembatan rusak, dan memperlambat distribusi logistik nasional.

Dan yang paling mengerikan: truk ODOL juga jadi penyebab banyak kecelakaan maut.

“Kita bicara soal nyawa, soal kerugian besar negara, dan soal keselamatan semua pengguna jalan. Program Zero ODOL bukan pilihan, tapi keharusan,” tegas Lokot.


Supir Truk Juga Manusia, Bro

Selama ini, banyak orang salah sasaran. Supir truk sering disalahkan, padahal mereka cuma roda terakhir dari sistem logistik yang timpang.

“Para supir ini penggerak utama logistik nasional. Kita harus berikan perhatian sama seperti untuk pilot atau masinis,” tambah Lokot.

Dia menuntut agar perusahaan logistik memenuhi standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) untuk supirnya. Mulai dari depo barang yang layak, manajemen beban yang adil, hingga fasilitas istirahat yang manusiawi.


Masalah Besar: Minim Pengawasan, Truk Tak Layak Jalan Dibiarkan

Masalah lainnya adalah lemahnya pengawasan terhadap kelayakan kendaraan berat. Banyak truk jalan tanpa uji KIR layak, modifikasi bodi ngawur, dan bahkan ada yang rem-nya udah rusak tapi tetap dipakai.

“Bagaimana kita bicara keselamatan kalau kendaraan ODOL jalan tanpa uji kelayakan dan tanpa pengecekan teknis yang ketat?” ujar Lokot.

Solusinya? Audit teknis berkala, sanksi tegas, dan sistem pengawasan digital real-time. Pemerintah diminta tak hanya kasih imbauan, tapi bikin aturan yang menggigit — karena nyawa bukan urusan kompromi.


AHY Turun Tangan, Pemerintah Gas Pol ke Zero ODOL 2026

Di balik layar, program Zero ODOL ini sekarang jadi prioritas nasional. Dipimpin langsung oleh Menko Perekonomian dan Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), pemerintah sedang menyusun peta jalan penghapusan ODOL secara bertahap.

AHY bahkan sudah mengundang berbagai stakeholder dari Kementerian Perhubungan, Kementerian PUPR, Kepolisian, hingga asosiasi logistik untuk bersatu padu.

Tujuannya: bukan cuma hapus ODOL, tapi perbaiki seluruh rantai logistik Indonesia.


Masa Kalah dari Singapura?

Indonesia negara besar, pasar logistiknya luas, jalan tolnya makin panjang. Tapi sayangnya, masih kalah soal manajemen dan regulasi dibanding negara kecil seperti Singapura.

“Kita punya potensi besar, jangan sampai kalah karena aturan yang setengah-setengah. Soal logistik, kita harus bisa lebih hebat dari Singapura,” kata Lokot.


Arah Masa Depan: Jalanan Aman, Logistik Makin Kencang

Zero ODOL bukan cuma soal aturan jalan, tapi juga tentang masa depan logistik Indonesia yang lebih efisien, aman, dan modern. Supir dilindungi, jalanan gak rusak, logistik lancar, harga barang lebih stabil, dan tentu saja: nyawa lebih selamat.

Tinggal kita semua mau serius atau tidak. Karena, kalau cuma nunggu regulasi tanpa aksi, truk-truk monster itu akan tetap melaju. Dan nyawa-nyawa akan terus jadi korban.


🛑 Apakah kamu pernah mengalami kejadian hampir celaka karena truk ODOL? Ceritakan di kolom komentar. Kita suarakan sama-sama pentingnya jalanan yang aman dan adil untuk semua.