Cerita Kelam dari Dunia Pinjol: Ketika Ibu Jadi Korban, Negara Kemana?

324

 

Jakarta, Ngabarin.com — Kalau hidup punya level neraka, mungkin buat Bu Nina (62) asal Jakarta Selatan, utang pinjol adalah salah satu level tersulit yang pernah dia lewati. Selama lebih dari tiga tahun, ibu tangguh ini berjuang sendirian menyelamatkan anak semata wayangnya, Susi (25), dari lilitan utang digital yang totalnya nyaris Rp 2 miliar!

Awalnya, Nina gak tahu apa-apa. Putrinya diam-diam pinjam duit dari banyak aplikasi pinjol, baik yang legal maupun ilegal. Tanpa pikir panjang, Susi tergoda karena prosesnya instan dan tanpa ribet—cukup KTP, selfie, dan nomor HP. Tapi yang gak dia sadari: bunganya mencekik, sistemnya jebakan.


💀 Teror, Malu, dan Trauma: Hidup Nina Jadi Film Horor

Mulai tahun 2021 sampai awal 2024, Nina hidup dalam teror. Puluhan panggilan tiap hari. Rumahnya didatangi penagih. Nama baik keluarganya dibongkar ke tetangga, ke RT. Kontak-kontak di HP anaknya dihubungi satu-satu—semuanya dikasih tahu kalau Susi punya utang dan belum bayar.

Nina harus nanggung rasa malu luar biasa, sampai dia bilang:

“Aku trauma… Mengemis-ngemis pinjam uang ke teman, saudara, koperasi. Semua tabungan ludes, gaji habis setiap bulan… Tapi utangnya tetap gak habis.”

Susi awalnya ngaku cuma punya utang Rp 60 juta. Nina langsung bantu lunasin. Eh, belum sebulan, muncul lagi tagihan Rp 200 juta. Terus Rp 300 juta. Lalu Rp 400 juta. Dan seterusnya… bagaikan tsunami yang gak berhenti. Susi gak bisa jelasin, karena pinjaman awalnya cuma jutaan—tapi bunganya? Sampai ratusan juta per akun! Itu baru satu. Gimana kalau belasan akun?


🧨 Gak Sendiri: SR dan Nana, Dua Ibu yang Kena Imbas

Cerita Nina ternyata bukan kasus tunggal. Di Makassar, ada Bu SR (53) yang juga harus gigit jari karena anaknya terjerat judi online, dan nutup utangnya pakai pinjol. Ujung-ujungnya, SR yang harus nanggung cicilan meskipun dia gak pernah pinjam sepeser pun. Dari utang Rp 5 juta, bunganya bikin jadi hampir Rp 10 juta.

“Kami semua ikut stres. Telepon penagih enggak henti-henti,” kata SR.

Lain lagi kisah Nana (36) di Bandung. Ibu tiga anak ini awalnya cuma minjam Rp 1 juta. Tapi karena dua dari empat pinjolnya ilegal, bunganya brutal—50% cuy! Gajinya sebagai penjahit cuma Rp 2,4 juta, tapi tagihannya sampai Rp 3 juta.

Suaminya dulunya juga doyan pinjol dan… judol. Semua harta mereka ludes: mobil, motor, bahkan rumah dijual. Dan Nana? Dia harus gugat cerai karena gak tahan hidup bareng tekanan utang dan teror.

“Sekarang tinggal di rumah orangtua. Cuma punya motor—dan itu pun masih nyicil,” katanya dengan mata sendu.


🧠 Psikis Koyak, Emosi Meledak

Buat Nana, hidup kayak jadi bom waktu. Emosi gak stabil, anak-anak sering jadi pelampiasan. Asam lambung sering kambuh. Rasanya pengen menghilang aja, katanya. Dan yang bikin tambah ironis? Utang itu bukan atas nama dia semua, tapi dia yang ditagih.

Penagih pinjol ilegal gak segan-segan kirim ancaman, ngomong kasar, bahkan nelponin semua kenalan di HP. Beberapa perempuan bahkan mengaku dapat ancaman seksual dari penagih. Belum lagi pelecehan verbal, trauma berkepanjangan, dan depresi yang bisa berujung fatal.


🎯 Kenapa Perempuan Selalu Jadi Target?

Jawabannya pahit, tapi nyata: karena perempuan kepala keluarga adalah target empuk. Terutama mereka yang berjuang sendiri untuk nafkahi anak-anak, dan gak punya akses ke pinjaman bank karena minim aset.

Mereka butuh uang cepat untuk kebutuhan sehari-hari—dan di situlah pinjol ilegal masuk, dengan rayuan: “Tanpa jaminan, cair cepat!” Padahal, itu cuma awal dari neraka yang lebih dalam.


🛑 Di Mana Negara?

Pertanyaannya sekarang: negara ke mana? Saat perempuan-perempuan ini diteror, dipermalukan, dilecehkan, bahkan sampai nyaris bunuh diri, mereka sendirian. Banyak dari mereka gak tahu harus mengadu ke mana, atau malu untuk bicara.

Mereka butuh perlindungan. Bukan cuma dari teror pinjol, tapi dari sistem yang membiarkan bisnis “kejam tapi legal” ini terus berjalan.


📢 Saatnya Bersuara

Pinjol bukan cuma soal utang. Ini soal martabat. Soal bagaimana sebuah sistem bisa menghancurkan mental, rumah tangga, dan kehidupan banyak orang—terutama perempuan.

Kalau kamu kenal seseorang yang terjerat pinjol, jangan hakimi. Dengar, bantu, arahkan ke jalur yang aman. Dan kalau kamu pernah jadi korban—berani bicara adalah langkah pertama untuk bangkit. (*)