Hasan Tiro dan Mimpi Aceh Merdeka: Romansa Politik yang Tak Selesai

330

Jakarta, Ngabarin.com — Dulu, sebelum nama-nama seperti “political exile” jadi topik diskusi tongkrongan, Hasan Tiro sudah jadi legenda. Tapi di Banda Aceh tahun 1990-an, beliau bukan siapa-siapa—setidaknya bukan seseorang dengan wajah. Ia lebih seperti cerita rakyat versi modern: disebut-sebut dengan bisik-bisik, tapi tidak pernah benar-benar muncul di depan mata.

Buat generasi Aceh yang tumbuh di masa Orde Baru, Hasan Tiro adalah urban legend. Foto-fotonya tidak pernah terlihat. Suaranya tidak pernah terdengar. Tapi semua orang tahu satu hal: dia ada. Atau pernah ada.

Hasan Tiro adalah bapak dari mimpi Aceh Merdeka. Tapi lebih dari itu, dia adalah arsitek imajinasi kolektif sebuah bangsa yang merasa dipinggirkan sejarah.


Dari Kota ke Gunung, Dari Columbia ke Gampong

Lahir dari keluarga bangsawan dan darah ulama pejuang, Hasan bin Muhammad Hasan ini tidak tumbuh jadi ulama. Ia malah terbang tinggi: sekolah ke Columbia University, New York, jadi elite terpelajar, hidup nyaman di jantung kapitalisme dunia. Tapi bukannya hidup mapan di Manhattan, dia justru “meninggalkan semuanya”—kaya, keluarga, jabatan—untuk satu hal: sejarah Aceh.

Karena bagi Hasan Tiro, nasionalisme bukan soal bendera, tapi panggilan leluhur. Ia percaya: Aceh tidak harus merevolusi apapun. Aceh hanya perlu kembali ke sejarahnya yang agung—negara berdaulat yang bahkan Belanda pun susah tundukkan. Indonesia? Itu hanya kesalahan teknis sejarah.


Wali yang Ditunggu Tapi Tak Pernah Bicara

Hasan Tiro bukan tipe revolusioner berapi-api yang sering kita lihat di kaos demo. Ia bukan Bung Karno. Ia bukan Che Guevara. Lebih cocok disebut penyair gerilya. Gaya bicaranya cepat, tajam, tapi tak berteriak. Tubuhnya mungil, jasnya rapi, rambutnya licin, dan pikirannya? Tajam seperti belati.

Ketika anak muda Aceh baru mulai mengenal namanya setelah Reformasi, wajahnya tetap tidak muncul. Tapi poster-poster kecil, selebaran, dan rekaman suaranya mulai menyebar. GAM—gerakan yang dia dirikan—menyebutnya “Wali”. Kata itu punya makna spiritual: pemimpin, pelindung, pewaris amanat.

Dan semua orang percaya: jika Wali pulang, maka Aceh akan merdeka. Sesederhana itu.


Dari Buku Harian ke Medan Gerilya

Di tengah hutan Aceh tahun 1976, Hasan Tiro mendeklarasikan kemerdekaan. Salvo pertama ditembakkan oleh petani dengan senapan tua. Tapi kekuatan utama Hasan Tiro bukan pada senjata. Ia percaya: jika orang Aceh sadar sejarahnya, maka perjuangan tidak perlu banyak peluru. Sejarah adalah senjata.

Saking cintanya pada sejarah, dia sempat nulis opera sejarah Perang Aceh… lengkap dengan iringan musik Beethoven dan Vivaldi. Naskahnya? Dalam bahasa Inggris. Dan dibaca oleh gerilyawan di hutan. Absurd? Mungkin. Tapi itulah Hasan Tiro.


Dari Warga Dunia ke WNI Lagi

Setelah tahun-tahun di Swedia dan Eropa, setelah puluhan tahun memimpin perlawanan dari pengasingan, setelah tsunami mengguncang dan damai akhirnya tercapai, Hasan Tiro kembali. Tahun 2008, ia turun dari pesawat di tanah kelahirannya. Rakyat menyambutnya seperti nabi yang lama ditunggu.

Tapi ada yang janggal: ia tidak bicara. Tidak sepatah kata. Tidak orasi. Hanya lambaian tangan. Seolah-olah seluruh cerita perjuangan ini memang tidak butuh penutup.

Setelah itu, ia tenggelam lagi—bukan dalam pengasingan, tapi dalam lingkaran elite yang melindunginya dari rakyat yang dulu menunggu-nunggu. Sampai akhirnya, pada 3 Juni 2010, ia wafat.

Ironisnya, di hari kematiannya, status WNI-nya dipulihkan. Ya, negara yang dulu dia lawan, kini mengakuinya kembali. Hasan Tiro wafat, tapi namanya hidup lagi. Kali ini, bukan dalam bisik-bisik, tapi dalam buku sejarah, mural jalanan, dan cerita generasi yang belajar mengingat.


Penutup: Wali yang Tidak Minta Disembah

Hasan Tiro mungkin bukan pahlawan dalam definisi Jakarta. Tapi bagi banyak orang Aceh, ia bukan sekadar simbol. Ia adalah perwujudan dari sebuah pertanyaan besar: apa yang terjadi ketika sejarah dilupakan?

Ia memang tidak berhasil membuat Aceh merdeka seperti di mimpi-mimpinya. Tapi dia berhasil melakukan sesuatu yang lebih sulit: membuat satu generasi percaya bahwa mereka pantas untuk bermimpi.(*)