Di antara halaman sejarah Dunia Melayu, ada satu nama yang sering kali tenggelam dalam debu waktu. Nama yang mungkin tak sepopuler Wali Songo atau Buya Hamka, tetapi jejaknya mengalir dalam aliran sungai pemikiran Islam di tanah Melayu. Dialah Hamzah Fansuri—sufi pengelana, penyair mistik, ulama yang pernah menggemparkan pemikiran Islam di Nusantara.
Lalu, siapa sebenarnya Hamzah Fansuri? Mengapa namanya tak sepopuler para ulama lain? Dan, lebih jauh lagi, apa yang membuat pemikirannya begitu kontroversial hingga dianggap sesat oleh sebagian orang di zamannya?
Hamzah Fansuri: Ulama dari Tanah Fansur
Sumber sejarah tak banyak yang berbicara tentang asal-usul Hamzah Fansuri. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ia berasal dari Fansur, sebuah daerah yang kini diyakini berada di Barus, Sumatera Utara—sebuah kota pelabuhan yang sejak abad ke-7 dikenal sebagai pusat perdagangan kapur barus dan tempat persinggahan para pedagang Arab, Persia, dan India.
Barus bukan sekadar pelabuhan. Ia adalah simpul peradaban. Sebuah melting pot yang mempertemukan berbagai pemikiran, budaya, dan keyakinan. Dari sanalah, seorang Hamzah Fansuri lahir dan tumbuh, menyerap ilmu dari berbagai penjuru dunia sebelum akhirnya berkelana ke Mekah, Baghdad, Persia, dan India.
Sufi Pengelana yang Menulis dengan Syair
Hamzah Fansuri dikenal sebagai salah satu ulama pertama di Nusantara yang menulis pemikiran Islam dalam bentuk syair dan prosa Melayu. Tak hanya itu, ia juga diyakini sebagai pencetus pertama puisi sufi dalam bahasa Melayu—sesuatu yang pada masa itu belum lazim.
Sufi besar ini mengusung konsep Wahdatul Wujud (kesatuan wujud), sebuah pemikiran yang dipopulerkan oleh Ibnu Arabi, filsuf sufi dari Andalusia. Dalam pemikiran ini, segala sesuatu pada hakikatnya adalah manifestasi dari Tuhan. Tuhan tak jauh di langit sana, melainkan bersemayam dalam setiap ciptaan-Nya.
Karya-karyanya penuh dengan metafora tentang perjalanan spiritual, pencarian Tuhan, dan hakikat keberadaan. Beberapa syairnya yang terkenal antara lain:
Hamzah Fansuri di dalam Mekah
Mencari Tuhan di Bait al-Ka‘bah
Di Barus ke Qudus terlalu payah
Akhirnya jumpa di dalam rumah
Syair ini mengandung makna mendalam: bahwa Tuhan bukan hanya ada di tempat-tempat suci seperti Mekah atau Baitul Maqdis, tetapi sesungguhnya bisa ditemukan dalam hati setiap manusia.
Murid yang Berbalik Menentang: Kontroversi Pemikiran Hamzah Fansuri
Namun, pemikiran Hamzah Fansuri tak diterima begitu saja. Di masanya, pemikirannya dianggap berbahaya. Paling tidak, ada satu nama besar yang terang-terangan menentangnya: Nuruddin ar-Raniri, seorang ulama asal Gujarat yang kemudian menjadi mufti di Kesultanan Aceh.
Ar-Raniri menilai konsep Wahdatul Wujud yang diajarkan Hamzah Fansuri sebagai ajaran sesat. Ia menuduh ajaran ini terlalu mirip dengan paham panteisme, yang menyamakan Tuhan dengan alam semesta. Akibatnya, ajaran Hamzah Fansuri mulai ditentang, bahkan sebagian kitab-kitabnya disebut-sebut dibakar atas perintah Kesultanan Aceh.
Bagaimana mungkin seorang ulama besar bisa berakhir sebagai “yang disesatkan”? Sejarah sering kali ditulis oleh mereka yang menang. Dan dalam pertarungan pemikiran di Aceh, Hamzah Fansuri kalah oleh dominasi pemikiran ar-Raniri.
Namun, apakah benar ajaran Hamzah Fansuri sesat?
Dalam sejarah Islam, kontroversi adalah hal yang biasa. Pemikiran Wahdatul Wujud juga bukan barang baru. Ibnu Arabi, yang menjadi inspirasi Hamzah Fansuri, juga ditentang habis-habisan di dunia Islam. Tetapi di belahan dunia lain, seperti di Turki atau Persia, ia justru dihormati sebagai salah satu sufi terbesar.
Jejak yang Ditutupi, Warisan yang Abadi
Meski pemikirannya dikecam dan bukunya dibakar, Hamzah Fansuri tak pernah benar-benar hilang. Pemikirannya tetap hidup dalam puisi-puisi yang tersebar dari mulut ke mulut, dari naskah ke naskah.
Jika ditelusuri, banyak pengaruh pemikirannya masih terasa dalam sastra Melayu. Bahkan, Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern mengakui bahwa Hamzah Fansuri adalah ulama sufi terbesar yang pernah dimiliki Nusantara.
Warisan Hamzah Fansuri tak hanya dalam bentuk syair dan filsafat, tetapi juga dalam cara berpikir. Ia mengajarkan bahwa Tuhan tak hanya ada dalam kitab suci atau di tempat-tempat suci, tetapi juga dalam hati setiap manusia yang mencari-Nya.
Mungkin inilah sebabnya mengapa Hamzah Fansuri masih relevan hingga hari ini. Dalam dunia yang semakin dangkal dan materialistis, ajarannya mengingatkan kita untuk kembali merenungi hakikat keberadaan, untuk mencari Tuhan bukan di tempat-tempat yang jauh, tetapi di dalam diri kita sendiri.
Hamzah Fansuri: Antara Kecaman dan Kekaguman
Hari ini, nama Hamzah Fansuri tak banyak disebut dalam khutbah-khutbah Jumat atau pelajaran agama di sekolah. Ia lebih banyak ditemukan dalam kajian sastra dibandingkan dalam kajian Islam populer.
Namun, apakah itu berarti ia kalah?
Sebaliknya. Ia justru abadi dalam ketidakpopulerannya. Ia menjadi seperti sosok-sosok pemikir besar lain yang sering kali lebih dihargai setelah mereka tiada.
Hamzah Fansuri mengajarkan kita bahwa kebenaran bukanlah tentang menang atau kalah dalam perdebatan, tetapi tentang menemukan makna di balik setiap pertanyaan. Dan bukankah itu yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini?
Mungkin sudah saatnya kita kembali membaca syair-syairnya, memahami pemikirannya, dan—lebih dari itu—melihat dunia dengan cara yang lebih luas. Sebab, seperti kata Hamzah Fansuri:
“Siapa mengenal dirinya, mengenal Tuhan yang nyata.”























