Jakarta, Ngabarin.com — Pernah dengar soal pernikahan arwah alias minghun dari Tiongkok? Tradisi kuno yang satu ini sebenarnya udah ada sejak 3.000 tahun lalu. Tujuannya? Supaya orang yang meninggal dalam keadaan lajang bisa tetap “berjodoh” di alam baka. Tapi belakangan, ritual ini malah berubah jadi praktik mengerikan yang bahkan melibatkan… pembunuhan.
Dari Ritual Spiritual, Jadi Kasus Kriminal
Pada 2016, publik Tiongkok digegerkan oleh kasus sadis yang bikin tradisi ini jadi sorotan. Seorang pria bernama Ma didakwa atas pembunuhan dua perempuan penyandang disabilitas mental. Alasannya? Dia mau jual jenazah mereka buat dijadikan “pengantin arwah”. 😱
Kasus ini terbongkar ketika polisi lalu lintas di Provinsi Shaanxi menghentikan kendaraan yang membawa jenazah seorang wanita. Setelah ditelusuri, ternyata Ma pura-pura menjanjikan pernikahan ke para korban sebelum akhirnya membunuh mereka demi uang.
Apa Sih Sebenarnya Pernikahan Arwah Itu?
Awalnya, minghun adalah upacara yang mempertemukan dua orang yang sudah meninggal — biasanya digelar oleh keluarga mereka yang masih hidup. Tujuannya: biar sang almarhum gak “kesepian” di akhirat.
Tradisinya mirip banget sama pernikahan biasa. Ada mahar, ada pesta, bahkan ada “mak comblang” yang dipilih dari ahli feng shui. Bedanya, yang dinikahkan adalah plakat makam, bukan orangnya.
Dan bagian paling ikonik (dan agak seram): keluarga mempelai pria akan menggali tulang-belulang sang mempelai wanita untuk dimakamkan bersama suaminya.
Sisi Gelap: Pencurian Jenazah & Pembunuhan
Seiring waktu, tradisi ini malah berubah jadi peluang bisnis gelap. Di beberapa daerah, jenazah perempuan muda jadi barang “bernilai tinggi”. Pada 2015, 14 jenazah dicuri dari satu desa di Shanxi. Harganya? Bisa tembus 100.000 yuan atau sekitar Rp226 juta. 😳
Walaupun pemerintah Tiongkok udah melarang jual beli jenazah sejak 2006, praktik ini tetap berlanjut secara sembunyi-sembunyi. Bahkan ada laporan soal orang yang dibunuh hanya demi “dipasarkan” sebagai calon pengantin arwah.
Kenapa Masih Ada yang Melakukan Ini?
Faktornya kompleks. Di daerah seperti Shanxi, banyak pria muda yang meninggal karena kerja di tambang batu bara. Keluarga mereka merasa perlu menikahkan si mendiang, entah karena keyakinan spiritual atau sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Selain itu, ketimpangan gender juga bikin “pengantin wanita” langka. Di Tiongkok, lahir lebih banyak anak laki-laki daripada perempuan, jadi jenazah perempuan muda pun jadi komoditas langka (dan mahal).
Budaya juga punya peran penting. Banyak yang percaya kalau arwah orang yang meninggal belum puas (karena belum menikah), mereka bisa bawa sial buat keluarga yang ditinggal. Makanya, pernikahan arwah dianggap cara buat “menenangkan” mereka.
Bukan Cuma di Tiongkok
Meski paling banyak ditemukan di Tiongkok utara dan tengah (kayak Shanxi, Shaanxi, Henan), tradisi ini juga masih ada di komunitas Tionghoa Asia Tenggara — termasuk Taiwan.
Contohnya, kalau seorang wanita lajang meninggal di Taiwan, keluarganya bisa naro amplop merah isi uang, rambut, dan kuku di jalan. Cowok pertama yang nemuin dan ngambil amplop itu wajib nikahin arwah si wanita — kalau nolak, katanya bisa kena sial.
Meski kedengarannya aneh atau menyeramkan, banyak yang melihat ritual ini sebagai bentuk cinta yang nggak luntur meskipun kematian memisahkan. Seperti yang dibilang ahli feng shui Szeto Fat-ching: “Pernikahan arwah itu menyentuh, menunjukkan ketekunan cinta.”
Kalau kamu tertarik soal budaya pop dan tradisi kuno yang masih hidup sampai sekarang — dengan semua keunikan (dan sisi gelapnya) — kisah pernikahan arwah ini jelas salah satu yang paling mengejutkan. (*)























